Thursday, May 14, 2026
spot_img

KBP 2026: Mahasiswa Ikom Untan Manfaatkan Penggunaan AI di Jurnalistik dan Humas

Pontianak Today – Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) Universitas Tanjungpura Pontianak kembali menggelar kegiatan Kuliah Bareng Praktisi (KBP) yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade sebagai bentuk komitmen dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih kompleks dan nyata bagi mahasiswa. Kegiatan ini menghadirkan praktisi di bidang jurnalistik dan kehumasan untuk membahas perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), dalam praktik jurnalistik dan hubungan masyarakat.

Mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, Kuliah Bareng Praktisi (KBP) sukses dilaksanakan pada Selasa, 12 Mei 2026 di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak mulai dari pukul 08.00 – 14.00 WIB. Sebanyak 133 peserta dari berbagai lintas program studi turut berpartisipasi dalam kegiatan ini sebagai bentuk antusiasme mahasiswa terhadap isu perkembangan teknologi komunikasi, jurnalistik, dan public relations di era AI.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi yang diwakili oleh Dosen Ilmu Komunikasi Suci Lukitowati. Dalam sambutannya, beliau berharap kegiatan KBP dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan karena telah menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa selama lebih dari satu dekade. KBP dinilai sebagai salah satu upaya program studi untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi pengalaman belajar yang kompleks, baik secara praktik di lapangan maupun secara keilmuan.

Kuliah Bareng Praktisi kali ini menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman di bidangnya masing masing. Dalam bidang jurnalistik, materi disampaikan oleh Rendra Oxtora, seorang praktisi profesional yang merupakan koresponden LKBN Antara Kalimantan Barat sekaligus Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak periode 2023–2026.

Sementara itu, untuk bidang public relations, materi disampaikan oleh Mentarie Resthu Putri selaku praktisi content creator, desainer grafis, dan video editor dari Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) Kota Pontianak.

Dalam sesi materi jurnalistik dipaparkan bagaimana evolusi ruang redaksi dari mesin ketik ke algoritma terjadi. Dijelaskan bahwa pada tahun 1950-an, proses jurnalistik berjalan sangat lambat. Jurnalis harus turun langsung ke lapangan seharian penuh, mencatat informasi di kertas, kembali ke kantor untuk mengetik menggunakan mesin tik, mencetak berita, hingga akhirnya disebarkan kepada masyarakat.

Perkembangan teknologi kemudian mengubah pola kerja jurnalis, mulai dari penggunaan komputer pada era transisi 1990-an, era milenium dengan smartphone, hingga saat ini memasuki era Artificial Intelligence (AI). Kini seorang wartawan hanya membutuhkan satu perangkat telepon genggam untuk mengambil foto, merekam suara, menulis berita, proses editing, hingga proses verifikasi yang kolaboratif antara manusia dan AI.

Praktisi pun menggunakan contoh dari film yang pernah beliau tonton, yaitu The Terminator.

“Kehadiran AI sempat memunculkan kekhawatiran, terutama mengenai ancaman kecerdasan buatan terhadap manusia,” kata Rendra.

Saat ini, penggunaan AI di dunia jurnalistik sudah mulai diterapkan, termasuk penggunaan presenter virtual berbasis AI. Namun, Rendra menegaskan bahwa AI tidak bertentangan dengan jurnalistik selama penggunaannya tidak dilakukan secara mentah tanpa verifikasi.

AI dinilai mampu membantu proses otomatisasi kerja, pencarian data, hingga pembuatan konten secara lebih cepat dan efisien. Sebagai contoh, pemanfaatan AI sound to script yang beliau gunakan untuk membantu dalam mengubah audio hasil wawancara menjadi script agar lebih efisien.

Meski demikian, terdapat berbagai tantangan dalam penggunaan AI, seperti persoalan akurasi, bias informasi, ancaman terhadap nilai kemanusiaan, hingga risiko ketergantungan pengguna yang dapat mengurangi kemampuan menulis dan berpikir kritis. Contoh penyebaran hoaks di media sosial seperti Facebook juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut.

Narasumber menekankan bahwa pondasi utama jurnalistik tetap berada pada etika jurnalistik. Berita harus kuat (akurat), berimbang, serta tidak memiliki itikad buruk. Beliau juga menambahkan bahwa seorang jurnalis yang baik juga harus mampu mempersiapkan pertanyaan yang berkualitas untuk narasumbernya.

Dalam bidang public relation dipaparkan mengenai pemanfaatan AI dan transformasi komunikasi publik di era digital. Transformasi juga terus terjadi dari gaya komunikasi lama menuju gaya baru yang lebih digital dan kreatif.

Kemudian, dipaparkan pula regulasi terkait penerapan AI di Indonesia, di antaranya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, serta Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.

Dalam dunia kerja Public Relation, AI juga menjadi bentuk transformasi kehumasan. Dulu PR hanya fokus pada komunikasi satu arah, yaitu melalui media massa, sedangkan sekarang PR dituntut untuk mampu berinteraksi secara cepat, responsif, dan berbasis data.

Dengan adanya AI bisa dimanfaatkan sebagai alat pendukung, seperti mengolah data publik, memantau isu dan opini, membuat konten komunikasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan informasi, hal hal ini akan menjadi lebih efisien dengan bantuan AI.

Pemanfaatan AI yang dilakukan oleh praktisi adalah Chat-GPT dan Gemini sebagai alat bantu untuk mendesain konten, brainstorming untuk ide konten, pembuatan caption, dan sebagainya. Praktisi pun menjelaskan penggunaan AI tidak dilarang, tetapi pengguna AI tetap harus mampu mempertanggungjawabkan hasil karya yang dibuat.

Dijelaskan bahwa AI tidak selamanya berdampak positif, pengguna bisa menjadi ketergantungan sehingga hal hal yang dihasilkan menjadi kurang sentuhan dari manusia. Selain itu, tingginya tingkat penyebaran disinformasi, ancaman privasi data, bias algoritma, hingga potensi pengurangan tenaga kerja juga berpotensi.

Penggunaan AI harus beriringan dengan etika penggunaannya, akurasi dan keandalan, pemanfaatan yang bertanggung jawab, transparansi dan akuntabilitas, keadilan dan non diskriminasi, serta perlindungan privasi dan keamanan data.

Sebagai penutup, praktisi menyampaikan, “Di era kecerdasan buatan, teknologi mungkin mampu mempercepat komunikasi, tetapi kepercayaan tetap dibangun oleh manusia. Karena itu, masa depan kehumasan bukan tentang memilih antara AI ataupun manusia, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan berdampingan untuk menciptakan komunikasi yang cerdas, etis, dan bermakna.”

Setelah sesi pemaparan materi dari para praktisi kegiatan dilanjutkan dengan games berupa studi kasus interaktif yang bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta pemecahan masalah peserta dalam menghadapi tantangan dunia jurnalistik dan kehumasan di era digital. Peserta diharapkan mampu mengimplementasikan dalam praktik jurnalistik dan humas.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung, terutama pada sesi diskusi dan studi kasus interaktif.

“Menurut saya, kegiatan KBP ini sangat seru dan bermanfaat karena kami mendapatkan banyak wawasan baru dari narasumber yang benar-benar berpengalaman di bidang jurnalistik dan public relations. Dari kegiatan ini saya jadi lebih memahami bahwa AI boleh digunakan untuk membantu pekerjaan, tetapi tetap harus ada batasnya dan tidak bisa digunakan sepenuhnya tanpa kemampuan serta pemikiran dari diri sendiri. Bagian yang paling menarik adalah sesi studi kasus di akhir kegiatan karena kami diperbolehkan menggunakan AI sebagai alat bantu dalam membuat press release dan berita. Menurut saya, sesi ini cukup menantang dan sangat melatih kemampuan berpikir kritis, menulis, serta bagaimana menggunakan teknologi dengan bijak,” ungkap Esra, salah satu peserta KBP 2026.

Melalui kegiatan Kuliah Bareng Praktisi (KBP) ini, diharapkan para mahasiswa mampu memahami pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi tanpa mengesampingkan etika dan tanggung jawab profesional. Karena tak dapat dipungkiri, di era ini, segala aspek kehidupan mulai berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi terutama AI.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata komitmen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Untan dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja dan perkembangan industri komunikasi di masa depan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular