Pontianak Today – Perjuangan seorang guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang mengabdi menjadi tenaga pendidik di Kabupaten Kubu Raya patut menerima apresiasi.
Asti Wahyuni setiap harinya harus menyebrangi sungai menggunakan sampan untuk mengajar ke SD Negeri 49 Sungai Kakap, Parit Timur Laut, Kabupaten Kubu Raya. Wanita ini sudah 2 tahun mengabdikan dirinya sebagai tenaga pendidik di kelas 5 dan kelas 6 SD Negeri 49 Sungai Kakap.
“Pertama-tama saya menggunakan motor tambang, setelah itu saya berpikir kalau Rp 50 ribu sehari ongkosnya selama 6 hari itu Rp 300 ribu sedangkan saya gajinya Rp 3 juta,” ungkap Asti.
Merasa perlu memutar otak untuk memangkas biaya transportasi ke sekolah, Asti kemudian belajar mengendarai Robin atau sampan dibantu oleh warga setempat menggunakan Robin komite.
Namun tak sampai disitu, tak jarang wanita ini harus berjuang sampai ke sekolah lantaran sampan yang ia bawa mengalami kerusakan atau bocor di beberapa bagian.
Bukan hal baru apabila saat di perjalanan sampan yang digunakan Asti mogok lantaran mesin yang sudah tua. Ia bersama rekan lain terpaksa berkayuh untuk melanjutkan perjalanan hingga sampai ke sekolah.
“Sudah siang jam 9, udah terlambat sebenarnya, sudah down tapi pada saat ngeliat anak-anak nunggu kami datang masih semangat untuk belajar. Anak-anak menunggu di jembatan itu di dermaga pas depan sekolah, sedih melihat mereka. Saya dan teman jadi semangat lagi untuk bisa memberikan pelajaran,” cerita Asti.
Sebagai tenaga pendidik Asti sangat berharap adanya bantuan perahu atau sampan yang dapat digunakan oleh guru serta siswa unuk berangkat ke sekolah.
“Saya berharap agar kami bisa mendapatkan bantuan karena selama ini kan bantuan yang kami pakai itu bantuan sampan yang memang sampan itu bukan yang fiber, sampan kayu yang memang sudah rapuh, tampalannya sudah banyak, kalau goyang sedikit udah masuk airnya,” jelasnya.
Lebih lanjut Asti menjelaskan bahwa hanya terdapat 4 orang guru yang mengajar di SD Negeri 49 Sungai Kakap untuk kurang lebih 30 siswa.




