Friday, September 20, 2024
spot_img

136 Kepala Sekolah di Kota Pontianak Dilantik

Hi!Pontianak – Sebanyak 136 Kepala Sekolah di wilayah Kota Pontianak, Kalimantan Barat dilantik oleh Wali Kota, Edi Rusdi Kamtono di Halaman Kantor Wali Kota, Rabu, 27 Juli 2022.

Kepala sekolah yang mengucap sumpah dan dilantik itu terdiri dari 109 Kepala Sekolah Dasar (SD) dan 27 Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono meminta kepada kepala sekolah yang baru dilantik untuk menciptakan suasana teduh di lingkungan sekolah. Tak kalah pentingnya adalah bagaimana seluruh pengajar mampu mengajak siswa selalu tertarik untuk belajar di sekolah.

“Buat sekolah seperti taman, agar segar dan teduh, serta jadi tempat bermain yang nyaman. Sehingga anak-anak jadi rindu dengan sekolah,” katanya.

Baca Juga

Sekolah di Pontianak Mulai Terapkan Kurikulum Merdeka

Pemkot Pontianak Teken Nota Kesepakatan KUA-PPAS Tahun Anggaran 2022

Ini Daftar 10 Prodi Favorit Universitas Tanjungpura Pontianak

Sementara itu di sisi lain Edi juga menyebutkan bahwa, sekolah-sekolah di Pontianak akan melaksanakan Kurikulum Merdeka, sebuah kurikulum yang bertujuan untuk mengasah minat dan bakat anak sejak dini dengan berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter serta kompetensi peserta didik.

“Jadi nantinya, yang saya tahu di SMA tidak ada lagi penjurusan seperti IPA, IPS, Bahasa dan lainnya. Semuanya berorientasi pada minat dan bakat dari para murid, dan ini merupakan program Kemendikbud Ristek,” terangnya.

Pendidikan yang berkualitas dinilai Edi, tak hanya sekadar menjelaskan pengajaran maupun pengetahuan tertulis. Dia menyebut pendidikan yang baik semestinya membangkitkan kreativitas serta kecerdasan peserta didik, khususnya dalam menyelesaikan masalah. Dengan Kurikulum Merdeka, dirinya berharap para sepala sekolah dapat meningkatkan kualitas belajar peserta didik.

“Kurikulum Merdeka ini memberikan keleluasaan kepada daerah-daerah untuk mengembangkan kualitas pendidikan masing-masing, disesuaikan dengan potensi daerah tersebut,” jelasnya.

Para guru di era modern ini juga dituntut untuk bisa menyesuaikan perubahan budaya belajar. Terlebih ketika mengajar murid yang kini dikenal dengan sebutan Generasi Z dan Generasi Alpha. Edi mengajak tenaga pendidik mahir memanfaatkan teknologi di setiap proses belajar-mengajar.

“Apalagi sekarang sudah era metaverse. Beda dengan zaman kita dahulu. Situasi kemajuan era digital harus dimanfaatkan,” imbuhnya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular