Hi!Pontianak – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Tanjungpura Pontianak menggelar “International Collaboration Lecturing” dengan tema “The Progress Report in Implementing of Plam Oil Certification in Indonesia: Lesson Learned from West Kalimantan” pada Jum’at, 24 Maret 2023.
Pada kegiatan tersebut turut menghadirkan Prof Hideki Hayashida dari Doshisha University, Kyoto, Jepang sebagai pembicara utama. Kegiatan diselenggarakan di Gedung Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura.
Kuliah umum kolaborasi antara Universitas Tanjungpura dan Doshisha University ini, dibuka oleh Dr. Erdi, selaku Ketua Program Studi Prodi Ilmu Administrasi Publik, Jurusan Ilmu Admisnistrasi, Fisip, Universitas Tanjungpura. Dalam sambutan beliau menyatakan bahwa kegiatan kuliah kolaborasi ini menjadi bagian dari proses pengembangan Fisip menuju kelas internasional sebagaimana visi misi fakultas yang digalakkan dibawah kepemimpinan Dr. Herlan selaku Dekan.
Acara dimoderatori oleh Akhmad Rifky Setya Anugrah yang merupakan salah satu dosen FISIP UNTAN. Acara ini terbagi menjadi dua pokok pembahasan. Pada kesempatan pertama pembahasan yang disampaikan oleh Prof Hideki adalah terkait riwayat kerja sama antara Doshisha University dengan Universitas Tanjungpura yang telah berlangsung semenjak tahun 2009. Bahkan antar pimpinan masing-masing sudah pernah melakukan kunjungan, beliau mengisahkan setidaknya sudah 2 kali kunjungan resmi dari Universitas Tanjungpura ke Doshisha University yakni 2015 dan 2019.
Kemudian pada sesi kedua, Prof Hideki yang merupakan sorang ahli dibidang Humanities and Social Sciences, mengemukakan hasil temuan penelitian yang telah dilakukan beliau di Kalimantan Barat. Beliau menemukan beberapa permasalahan terkait proses standarisasi sawit, baik standarisasi produksi minyak sawit berkelanjutan (Indonesia Sustainable Plam Oil/ISPO) maupun penerapan standar global untuk produksi dan pengadaan minyak sawit berkelanjutan (Roundtable on Sustainable Plam Oil/RSPO), yakni dampak ekonomi dan lingkungan yang berdampak langsung pada para petani sawit terutama petani mandiri.
Masalah ekonomi dalam temuan Prof Hideki berdampak langsung pada petani, dimana dengan adanya standarisasi terhadap sawit di Kalimantan dapat mendorong peningkatan dan menjaga sabilitas harga. Saat ini hal ini belum terlihat sebab masih kurang dari 1 persen petani sawit mandiri yang melakukan proses standarisasi ini, sehingga beliau mendorong untuk dilakukannya sosialiasi dari para petani sawit mandiri yang telah sukses untuk menjadi contoh guna ditiru oleh petani sawit lainnya.

Selanjutnya, faktor lingkungan juga menjadi aspek krusial dalam pembahasan sawit di Indonesia ujar prof Hideki sebab tumbuh kembang varietas tumbuhan selain sawit di Kalimantan Barat juga akan terdampak dari proses standarisasi. Berkurangnya keragaman dan luas kekayaan hayati di Kalimantan akan menimbulkan efek negatif yakni rusaknya salah satu kawasan hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia. Sehingga sertifikasi itu penting sebagai alat kontrol meminimalisir kekhawatiran dunia terhadap fenomena perubahan iklim dan peningaktan emisi karbon di dunia.
Dijumpai pada kesempatan yang berbeda Kasdi Aryada, selaku ketua panitia dari kegiatan menyampaikan ungkapan syukur sebab acara International Collaboration Lecturing antara Universitas Tanjungpura dengan Doshisha University telah berjalan dengan lancar.
“saya harap terus digalakkannya kegiatan lintas universitas di FISIP UNTAN baik tingkat nasional maupun internasional dapat mengangkat pamornya menjadi salah satu akselerator perkembangan dibidang ilmu pengetahuan di Indonesia , khususnya Kalimantan Barat,” ungkapnya.




