Pontianak Today – Sebuah video yang memperlihatkan dua pria dililit lakban cokelat dari kepala hingga kaki viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, keduanya tampak berdiri kaku dengan tubuh terbungkus rapat, sehingga memunculkan dugaan bahwa mereka merupakan pelaku pencurian yang dihukum warga.
Video itu beredar luas di media sosial X pada Selasa, 30 Juni 2026. Narasi yang menyertai unggahan menyebutkan bahwa dua pria tersebut adalah terduga maling yang ditangkap dan diberi hukuman oleh masyarakat. Penampilan keduanya yang menyerupai karakter Teletubbies turut memancing beragam reaksi warganet.
Meski demikian, hingga video tersebut viral, tidak ada informasi pasti terkait lokasi kejadian, kronologi peristiwa, maupun identitas dua orang dalam video. Aparat kepolisian juga belum memberikan keterangan resmi mengenai kebenaran maupun penanganan peristiwa yang terekam dalam video tersebut.
Di tengah simpang siur informasi, masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai konten yang beredar di media sosial serta tidak melakukan tindakan main hakim sendiri. Proses penegakan hukum merupakan kewenangan aparat berwenang dan harus dilakukan sesuai aturan yang berlaku.
Sehari berselang, fakta baru muncul. Pada Rabu, 1 Juli 2026, beredar video klarifikasi di media sosial Instagram akun @ferri_irawan02 yang menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah penangkapan pelaku pencurian. Dalam video itu, salah satu pria menyebut bahwa mereka sedang menjalankan challenge live di TikTok.
“Kayak gini dibilang maling. Lagi lakuin challenge live gini dibilang maling, terus videonya viral,” ujar salah satu pria dalam video tersebut menggunakan bahasa Jawa.
Klarifikasi itu mengungkap bahwa lakban yang membungkus tubuh mereka merupakan bagian dari tantangan hiburan, bukan bentuk hukuman dari warga. Namun, potongan video tanpa konteks yang lebih dulu tersebar telah memunculkan persepsi keliru di ruang publik.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana konten di media sosial dapat dengan cepat membentuk opini tanpa verifikasi yang memadai. Kesalahan penafsiran terhadap sebuah video dapat berdampak pada citra dan keamanan individu yang terlibat.
Penulis: Denys Rahma Santoso




