Pontianak Today – Di tengah suasana duka pascabanjir bandang yang menerjang Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) pada akhir November 2025, terselip sebuah kisah haru yang menyentuh nurani publik. Seorang guru di Kecamatan Angkola Selatan bernama Nur Ali Harahab, dengan penuh keikhlasan menghibahkan tanah pribadinya seluas 7.500 meter persegi untuk pembangunan madrasah.
Aksi kemanusiaan tersebut sontak menyita perhatian warganet setelah kisahnya beredar luas di media sosial. Banyak pihak memuji langkah tersebut sebagai wujud nyata kepedulian dan pengabdian terhadap dunia pendidikan, khususnya di wilayah yang terdampak bencana.
Di balik keputusan besar itu, terdapat perjalanan hidup panjang yang membentuk pandangan sang guru tentang pentingnya pendidikan. Ia diketahui pernah bekerja di sejumlah tempat, termasuk di Arab Saudi. Pengalaman tersebut memperkaya wawasannya, terutama mengenai urgensi pendidikan agama bagi generasi muda.
“Dulu di Angkola Selatan belum ada madrasah,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari laman resmi Pendis Kementerian Agama, Jumat, 23 Januari 2026.
Dari kondisi itulah, tumbuh niat bersama sang suami untuk suatu hari menghibahkan tanah jika telah memiliki rezeki yang cukup. Niat tersebut kini terwujud. Setelah melalui proses dan perjuangan panjang, lahan yang berhasil dibeli akhirnya dihibahkan kepada negara melalui Kementerian Agama. Sejak awal, tanah tersebut memang tidak dimaksudkan untuk diwariskan kepada keluarga.
Ia berharap, dengan pengelolaan oleh negara, madrasah yang akan dibangun dapat berdiri kokoh dan berkelanjutan, serta terus memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak di Tapanuli Selatan.
“Madrasah ini saya niatkan menjadi milik umat dan negara. Insya Allah dengan pengelolaan yang baik, manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” tuturnya.
Lebih jauh, ia menaruh harapan besar agar madrasah tersebut kelak mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang baik serta berguna bagi agama, bangsa, dan negara.
Kisah ini menjadi bukti bahwa di tengah musibah dan keterbatasan, nilai keikhlasan dan kepedulian sosial masih tumbuh subur, sekaligus menghadirkan harapan baru bagi masa depan pendidikan di Tapanuli Selatan.




