Thursday, May 23, 2024
spot_img

12 Alasan Cowok Kerap Tak Bisa Munculkan Ekspresi Diri

Pontianak Today – Pria cenderung lebih sulit untuk mengungkapkan emosi dan perasaannya kepada orang lain dibandingkan wanita. Hal tersebut dapat dilihat dari pria yang lebih mudah untuk menunjukkan emosi marah ketimbang ekspresi bahagia dan sedih. Lantas, faktor apa yang menyebabkannya?

Dalam psikologi, terdapat sebuah kondisi yang dinamakan “alexithymia”. Individu yang memiliki kondisi ini akan merasa kesulitan dalam memahami, memproses, atau mendeskripsikan emosinya.

Psikolog Loren Soerio menjelaskan bahwa istilah ini menggambarkan keterputusan antara pikiran dan emosi. Ia mengatakan alexithymia bukan gangguan mental semata, melainkan suatu sifat yang bisa menimbulkan tantangan psikologis berbeda.

Alexithymia dapat muncul pada individu dengan gejala yang bervariasi. Menurut penelitian, terdapat beberapa indikator alexithymia yang paling umum:

  1. Ekspresi emosi yang terhambat
  2. Kapasitas empati yang terbatas
  3. Kesulitan mengatur emosi secara umum
  4. Kesulitan mengartikulasikan perasaannya kepada diri sendiri atau orang lain
  5. Kesulitan untuk tetap selaras dengan nilai dan keyakinan mereka sendiri
  6. Kesusahan dalam lingkungan sosial
  7. Kurangnya imajinasi internal
  8. Menggunakan strategi penjarakan atau cut off
  9. Meningkatnya kesulitan dengan gairah dan regulasi emosi dalam hubungan intim
  10. Preferensi yang lebih besar terhadap otonomi
  11. Suasana hati negatif yang kronis
  12. Takut akan keintiman emosional
    Penelitian juga telah menunjukkan bahwa alexithymia lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Adapun faktor lain yang mempengaruhi mengapa pria sulit mengekspresikan emosi dan perasaannya dibandingkan wanita, yaitu karena faktor gender.

Gender merupakan konstruksi yang disosialisasikan. Banyak laki-laki yang mempelajari aturan-aturan maskulinitas beracun atau toxic masculinity sejak dini, seperti agresi, dominasi, persaingan, dan stoicism.

Pada usia 2-4 tahun, anak laki-laki biasanya kurang ekspresif secara verbal dibandingkan anak perempuan yang disebabkan oleh faktor sosialisasi. Hal tersebut diperkuat dengan larangan dan stigma-stigma yang telah melekat bahwa laki-laki tidak bermain boneka dan tidak boleh menangis, bahkan warna pink hanya diperuntukkan bagi perempuan.

Adanya stigma tersebut pun semakin mendukung teman sebaya maupun laki-laki lain di sekolah, keluarga, dan kelompok teman untuk memperkuat aturan maskulinitas, serta menindas anak laki-laki yang tidak mematuhi aturan itu.

Agar tidak dikucilkan karena takut dianggap tidak cukup maskulin, maka anak laki-laki terpaksa untuk menekan emosi dan menyangkal perasaan mereka. Lingkungan keluarga yang kerap mempertahankan ekspektasi peran gender yang kaku pun cenderung menghalangi anak laki-lakinya untuk mengekspresikan emosi selain amarah.

Akibat faktor gender yang terus berlanjut hingga dewasa, pria menjadi lebih sulit untuk mengungkapkan emosi dan perasaannya lantaran selalu tertahan dan membuatnya bingung harus bertindak bagaimana.

Berdasarkan penelitian, individu yang memiliki alexithymia telah terbukti memiliki korelasi negatif dalam kualitas dan kepuasan yang dirasakan dalam suatu hubungan.

Ketika salah satu atau kedua pasangan memiliki alexithymia, pasangan akan kesulitan untuk merasa aman, diakui, didengar, atau dilihat. Kurangnya ekspresi emosional, komunikasi, dan koneksi antara keduanya dapat menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan hubungan.

Tidak hanya perempuan, laki-laki juga berhak untuk menyalurkan emosi tanpa mempertanyakan maskulinitasnya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular