Tuesday, April 23, 2024
spot_img

Kisah Petinju Mark Magsayo: Dulu Jualan Es Krim, Kini Juara Dunia

Hi!Pontianak – Mark Magsayo, yang kini memegang titel juara dunia kelas bulu WBC, adalah petinju yang disebut-sebut sebagai penerus Manny Pacquiao. Hal ini berakar dari lika-liku perjuangan hidup pria Filipina itu yang hampir sama dengan Pac-Man.

Ya, petinju 27 tahun itu dulunya lahir dari keluarga yang kurang mampu dan erat dengan kemiskinan. Kondisi yang dihadapi Magsayo semacam itu juga pernah dialami oleh Pacquiao sebelum mengukuhkan diri menjadi jawara tinju dunia.

Dengan adanya hal tersebut, Magsayo pun terpaksa harus bekerja di jalanan demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Menurut pemaparan The Sun, masa kecil Magsayo banyak dihabiskan untuk berdagang es krim.

“Saya lahir di keluarga yang erat dengan kemiskinan. Jadi, saya terpaksa harus membantu keuangan keluarga. Saya menjual es krim. Itulah masa kecil saya,” ucap Magsayo.

Baca Juga

Daud Yordan Menang TKO Setelah Petinju Thailand Jatuh 3 Kali di Ronde Ke 6

Cristiano Ronaldo Bangun Rumah Idaman Untuk Pensiun Sebesar Rp 322 M

Kendati demikian, Mark Magsayo memiliki mimpi yang cukup besar yakni menjadi petinju profesional. Alhasil, ia senantiasa tak lupa menyempatkan diri untuk berlatih tinju sejak usia 8 tahun di samping berjualan es krim.

Ketika menginjak umur 10 tahun, Magsayo memutuskan untuk benar-benar fokus menekuni dunia tinju. Ia pun berhenti berjualan dan memantapkan diri untuk berlatih dengan berharap hal tersebut bisa mengubah kondisi keluarganya suatu saat nanti.

Kisah Penerus Manny Pacquiao: Dulu Jual Es Krim, Kini Juara Dunia (1)
Petinju Filipina, Mark Magsayo (kiri). Foto: Patrick T. FALLON/AFP

Namun, Magsayo cukup kesusahan dalam memulai kariernya di dalam ring. Pada 3 pertandingan perdananya, ia tak bisa mengalahkan lawannya sehingga hal tersebut membuat sang ayah tak yakin dengan mimpi Magsayo.

“Saya mulai fokus ke dunia tinju. Saya bertarung 3 kali dan semuanya kalah. Ayah saya pun menyarankan saya untuk berhenti mengejar hal itu. Namun, saya saat itu masih muda. Saya memilih untuk tetap melakoninya,” tambahnya.

Mark Magsayo pun menjadikan kekalahan tersebut sebagai cambuk. Ia pun mulai berlatih dengan kerasa secara konsisten. Setiap pagi, Magsayo senantiasa menyempatkan diri untuk berlari. Perihal latihan, ia selalu melakukannya sepulang sekolah.

“Saya berlatih sangat keras. Saya berlari setiap pagi dan berlatih setiap pulang sekolah. Saya mendedikasikan diri untuk bertarung dan menang di duel selanjutnya,” ujar Magsayo.

Berangkat dari latihan tersebut, Magsayo pun bertransformasi menjadi sosok petinju yang cukup gahar di tingkat amatir. Tercatat, ia sudah memenangkan lebih dari 200 pertarungan sebelum menginjakkan kaki di dunia profesional pada 2013.

Sesaat setelah terjun ke tingkat yang lebih tinggi, Magsayo tak kehilangan performanya. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan 11 kemenangan yang ditorehkan olehnya dalam kurun waktu dua tahun.

Usai merasa cukup kuat, petinju 27 tahun itu pun akhirnya memutuskan untuk memulai debutnya di ring tinju Amerika Serikat. Ia memulai debut pada Juli 2015 dan berhasil mengalahkan Rafael Reyes.

Karier Magsayo semakin cemerlang ketika ia dipertemukan oleh eks pelatih Manny Pacquaio, Freddie Roach, pada 2020. Roach adalah sosok mentor yang berhasil mengantarkan Pac-Man menjuarai tinju di setiap kelas.

Kisah Penerus Manny Pacquiao: Dulu Jual Es Krim, Kini Juara Dunia (3)
Petinju, Manny Pacquiao. Foto: John Gurzinski/AFP

Dengan adanya hal itu, Mark Magsayo pun juga didik di tempat yang sama dengan Pacquaio, WildCard Gym. Ia mengaku bahwa hal tersebut merupakan salah satu mimpi Magsayo. Selain itu, juga ada banyak perubahan yang terjadi setelah Freddie melatihnya.

“Itu adalah salah satu mimpi dan pengalaman yang menakjubkan bagi saya karena bisa berlatih dengan pelatih legendaris [Freddie]. Ia mengubah gaya dan mengoreksi kesalahan saya. Saya pikir sebelumnya saya sudah tahu tinju ketika saya tiba di sini,” lanjut Magsayo.

“Tetapi ketika saya menginjakkan kaki di gym dengan pelatih Freddie Roach, saya tidak cukup baik. Ia mengajari saya banyak tentang tinju, gaya dan teknik baru. Ia mengubah gaya saya sehingga menjadi lebih baik sekarang,” tambahnya.

Langkah Magsayo untuk menjadi petinju profesional semakin terbuka lebar ketika Manny Pacquaio bersedia menjadi mentor dan penasihatnya. Hal tersebut tentunya tak terlepas dari peran Freddie Roach yang berhubungan baik dengan Pac-Man.

Kisah Penerus Manny Pacquiao: Dulu Jual Es Krim, Kini Juara Dunia (4)
Manny Pacquiao. Foto: Getty Images

“Untuk pertama kalinya, kami bertemu satu sama lain. Di Filipina, ia berkata kepada saya, ‘Teruslah berlatih. Berlatihlah dengan keras setiap hari dan disiplin’,” tambah Magsayo.

“Itulah yang ia katakan kepada saya. Ia menginspirasi saya dalam setiap pertarungan. Ketika saya melihatnya berlatih di TV. Setiap kali ia menang, saya merasa terinspirasi,” tuturnya.

Usai melakoni banyak momen krusial di dunia tinju, banyak yang mengatakan bahwa Magsayo adalah sosok ideal untuk meneruskan Pacquaio. Meskipun begitu, Magsayo dengan kerendahan hati berkata tidak ada yang bisa menggantikan Pac-Man.

“Sungguh bagus ketika mereka memanggil saya ‘The Next Manny Pacquaio’. Tetapi, menurut saya tidak ada penerusnya. Hanya ada satu Pacquaio. Saya kini hanya ingin dikenal sebagai diri saya sendiri. Sungguh membanggakan ketika saya berhasil mewakili Filipina,” ucap Magsayo.

Selain Freddie dan Pacquaio, Magsayo mengaku bahwa ada satu sosok penting yang berpengaruh besar dalam keberhasilannya di atas ring. Ia adalah istri Magsayo, Frances Arbie, yang selalu menemani dan menjadi manajernya.

“Sangat penting memiliki istri yang selalu mendukung saya. Ia mengatur segala sesuatu tentang kamp saya. Ia sangat suportif. Semua kebutuhan saya telah ia berikan,” ujar Magsayo.

“Ia mengatur seluruh tim dan kontrak untuk pertarungan saya. Ia adalah manajer saya dan melakukan semuanya untuk saya,” tambahnya.

Baca Juga

Cerita Arvin, dari Nembak Kaleng Minuman Hingga Naik Podium Kejuaraan Nasional

5 Jenis Olahraga ala Kate Middleton yang Bikin Tubuhnya Bugar dan Awet Muda

Bicara soal performa di atas ring, Magsayo berhasil menahbiskan diri sebagai juara dunia kelas bulu usai menghajar Gary Russell pada Januari lalu. Namun, gelarnya bakal diuji ketika Magsayo ditantang oleh Rey Vargas pada Sabtu (9/7).

Untuk saat ini, ia tampak fokus mempersiapkan diri dalam menghadapi pertandingan yang digelar di The Alamodome, Texas. Jika berhasil mengalahkan Vargas, Magsayo bakal mencoba menantang Leo Santa Cruz.

“Ia [Vargas] petarung yang bagus dan tangguh. Tetapi ia tidak pernah menghadapi petarung seperti saya. Jadi dia nanti bakal terkejut. Ia tidak memiliki pukulan keras. Saya pikir itu akan menjadi pertarungan yang bagus. Tapi apa pun yang ia lakukan, kami sudah punya rencana,” ujar Magsayo.

“Sekarang, tujuan saya hanya ingin melewati ujian dengan menghadapi Vargas. Lalu, saya ingin menantang para jawara sehingga bisa menjadi sosok yang tak terkalahkan,” tambahnya.

“Saya ingin melawan Leo Santa Cruz. ia sosok terbaik saat ini sekaligus mantan juara dunia. Saya ingin melawannya. Mereka mengatakan jika saya memenangkan pertarungan [melawan Vargas], saya bisa menantang Leo Santa Cruz,” pungkas Magsayo.

Setelah itu, nantinya petinju yang mengoleksi 24 kemenangan dengan 16 KO tersebut juga berencana ingin menghadapi para rival berat Manny Pacquaio, yakni Erik Morales dan Juan Manuel Marquez.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular