Thursday, May 23, 2024
spot_img

Festival Lampion Disebut Sebagai Hari Valentine, Berikut Kisah Uniknya

Pontianak Today – Siapa sangka, ternyata perayaan Festival Lampion atau Cap Go Meh juga dianggap sebagai hari Valentine, loh.

Festival Lampion tidak hanya identik dengan makan yuanxiao dan menikmati lentera bunga, tetapi festival ini juga menjadi momen di mana orang-orang bergembira sejak zaman kuno. Sebagai hari libur umum pada zaman dahulu, Festival Lampion merupakan karnaval nasional yang dirayakan dalam waktu semalam.

Bahkan gadis-gadis yang sering tinggal di dalam rumah pun akan merias wajah, pergi keluar bersama teman, atau menikmati kencan yang manis pada perayaan festival ini. Dapat dikatakan bahwa Festival Lampion juga merupakan Festival Cinta alias hari Valentine.

Hal tersebut ternyata sudah bermula sejak zaman dahulu. Pada Dinasti Song (960-1279), orang-orang berusaha keras untuk berdandan dengan mengenakan benda cerah di kepala. Mereka membuat lampion seukuran kurma, menghiasinya dengan mutiara, kemudian mengenakannya di kepala seperti ikat kepala neon pada masa modern.

Anak perempuan memakai lentera, sedangkan anak laki-laki langsung memakai bola api. Anak laki-laki akan menggiling kurma kering menjadi bubuk dan mencampurkannya dengan debu arang. Lalu, mereka menuangkan minyak dan lilin ke atas campuran tersebut, membentuknya menjadi bola-bola, kemudian mengikatnya pada pohon besi. Setelah menyalakan bola, mereka memasang perlengkapan yang telah dibuat itu di kepala mereka.

Pada Dinasti Song, pakaian putih menjadi gaya paling trendi selama Festival Lampion. Beberapa ahli percaya bahwa warna putih dipilih untuk melambangkan bulan purnama. Dapat dikatakan juga bahwa orang-orang Tionghoa terpesona dan sangat gembira pada malam festival ini.

Saat ini, perayaan Festival Lampion menjadi semakin beragam seiring berkembangnya zaman dengan apresiasi lampion dan teka-teki lampion yang kian populer di seluruh dunia.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular