Saturday, February 24, 2024
spot_img

2,45 Juta Remaja di Indonesia Masuk Kategori ODGJ

Hi!Pontianak – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan University of Queensland di Australia dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa 1 dari 20 remaja di Indonesia terdiagnosis memiliki gangguan mental, mengacu pada Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-V) keluaran American Psychological Association (APA).

Ini berarti, sekitar 2,45 juta remaja di seluruh Indonesia masuk dalam kelompok Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Penelitian ini termuat dalam makalah berjudul Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang bakal terbit pada 20 Oktober pekan depan.

Dijelaskan oleh Amirah Ellyza Wahdi, peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM yang terlibat dalam studi, hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan kecemasan menjadi gangguan mental paling umum di antara remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia (3,7%). Disusul dengan gangguan depresi mayor (1%), gangguan perilaku (0,9%), serta gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) yang masing-masing diderita oleh 0,5%.

Gangguan kecemasan dalam I-NAMHS terdiri dari dua jenis, yakni fobia sosial dan gangguan kecemasan menyeluruh. Fobia sosial adalah ketakutan berlebih terhadap situasi sosial tertentu seperti presentasi di depan kelas, dll. Sementara gangguan kecemasan menyeluruh adalah kecemasan berlebih terkait beberapa kejadian atau aktivitas, misalnya karena menghadapi ujian.

Gangguan kecemasan ini bisa ditimbulkan oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, sistem saraf, keluarga, dan lingkungan sekitar. Ketika seseorang gagal mengatasi menangani stres yang dialami, ini akan menjadi gangguan kecemasan.

Riset I-NAMHS menemukan bahwa remaja yang menderita gangguan cemas akan cenderung mengalami gangguan fungsi, setidaknya pada satu ranah hidup mereka. Artinya, mereka memiliki kualitas hidup yang lebih buruk ketimbang orang tanpa gangguan kecemasan.

“Ada empat domain yang kami evaluasi dalam I-NAMHS, yaitu keluarga (masalah dengan orang tua atau kesulitan beraktivitas bersama anggota keluarga), teman sebaya (masalah hubungan pertemanan), sekolah atau pekerjaan (kesulitan menyelesaikan tugas, performa akademik buruk), atau distres personal (rasa bersalah atau sedih yang berkepanjangan),” tulis Amirah.

Di antara remaja Indonesia yang mengalami gangguan mental, 83,9%-nya mengalami gangguan fungsi pada ranah keluarga, disusul oleh ranah teman sebaya (62,1%), sekolah atau pekerjaan (58,1%), dan distres personal (46,0%).

Ada masalah mental lain mengintai

Selain itu, peneliti juga menemukan ada lebih banyak remaja di Indonesia yang sebenarnya mengalami beberapa gejala gangguan mental, tapi tidak cukup untuk dikatakan menderita gangguan mental sesuai kriteria DSM-5.

Survei I-NAMHS menunjukkan, hampir 35% atau sekitar 15,5 juta remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia terdiagnosis memiliki setidaknya satu masalah kesehatan jiwa sehingga masuk dalam Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), artinya mereka rentan mengalami gangguan mental.

Redamkan Stress dengan Kasih. Foto: kumparan
Redamkan Stress dengan Kasih. Foto: kumparan

Rasa kecemasan jadi masalah gangguan mental paling banyak muncul di antara remaja Indonesia (26,7%). Disusul oleh masalah terkait pemusatan perhatian atau hiperaktivitas (10,6%), depresi (5,3%), dan masalah perilaku (2,4%), serta stres pascatrauma (1,8%), di mana remaja laki-laki prevalensinya cenderung lebih tinggi dibanding perempuan.

“Kami juga menemukan remaja yang lebih muda (10-13 tahun) memiliki prevalensi masalah pemusatan perhatian dan/atau hiperaktivitas yang lebih tinggi dibandingkan remaja yang berusia lebih tua (14-17 tahun). Sebaliknya, remaja yang berusia lebih tua memiliki prevalensi depresi yang lebih tinggi dibandingkan remaja yang lebih muda,” papar Amirah.

Temuan ini jelas menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental dan gangguan mental di antara remaja Indonesia adalah hal yang umum terjadi.

Oleh karena itu, untuk menanggulanginya, peneliti menyarankan agar pemerintah Indonesia beserta pemangku kepentingan lain harus memprioritaskan program-program yang bertujuan untuk membantu remaja dalam mengelola rasa cemas.

Fakta bahwa sebagian besar dokter ahli jiwa dan psikolog klinis berpraktek di perkotaan membuat isu layanan kesehatan mental remaja menjadi hal yang harus menjadi prioritas. Di Indonesia, misalnya, hanya ada sekitar 0,29 psikiater dan 0,18 psikolog per 100.000 penduduk.

Bahkan, dalam riset tahun 2021 yang dilakukan Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran, sebanyak 96,4% dari hampir 400 remaja yang mereka survei kurang memahami cara mengatasi stres akibat masalah yang sering mereka alami. Banyak dari mereka mengkritik layanan kesehatan di Indonesia yang belum tentu menjamin kerahasiaan dan cenderung menghakimi.

Peneliti bilang, mengingat hampir semua remaja di Indonesia bersekolah, maka guru atau tenaga pendidik juga bisa jadi alternatif untuk memastikan semua remaja yang membutuhkan dukungan kesehatan mental bisa mendapat bantuan dan rujukan yang layak. Selain itu, peran keluarga juga penting dalam penanganan gangguan mental remaja, terutama orang tua.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular